Tampilkan postingan dengan label sekilas info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekilas info. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Oktober 2013

Sakit Gigi Bisa Berujung Penyakit Jantung

Dari Malas Sikat Gigi Bisa Berujung Penyakit Jantung

Gingivitis adalah peradangan pada gusi yang dapat disebabkan oleh plak/biofilm. Gingivitis dimulai dengan gejala ringan yang kadang terlewatkan oleh penderitanya. Namun, gingivitis perlu penanganan dini agar tidak berkembang menjadi penyakit gusi yang lebih serius hingga menyebabkan gigi tanggal.

Penyebab utama dari gingivitis adalah buruknya kesehatan dan kebersihan rongga mulut yang membuat plak terbentuk pada gigi. Plak terbentuk karena adanya sisa-sisa makanan yang bersimbiosis dengan bakteri di dalam mulut, dan seringkali tidak terlihat.

Plak dapat disingkirkan dengan mengembangkan kebiasaan menyikat gigi setiap hari secara teratur untuk mengontrol timbulnya plak yang biasa berlangsung dalam waktu 24 jam. Jika plak dibiarkan lebih dari dua hingga tiga hari, plak tersebut akan mengeras di jalur gusi menjadi tartar/dental calculus. Jika plak sudah terbentuk menjadi tartar, terbentuk perisai pelindung bagi bakteri sehingga makin sulit dibersihkan dan perlu bantuan dokter gigi.

Tartar yang tinggal lama di jalur gusi lama-kelamaan akan mengiritasi gingiva (bagian gusi yang menjadi dasar gigi) lalu membengkak dan mudah berdarah. Tidak hanya kebersihan mulut yang buruk, masih banyak penyebab lain gingivitis seperti:
- Konsumsi tembakau
- Diabetes
- Usia lanjut
- Adanya penyakit leukemia, HIV/AIDS, dan lainnya.
- Adanya konsumsi obat-obatan tertentu.
- Adanya infeksi jamur atau virus tertentu.
- Mulut kering.
- Perubahan hormon karena kehamilan, siklus menstruasi, atau konsumsi obat kontrasepsi.
- Nutrisi buruk.
- Penanganan yang salah pada gigi yang sedang sakit.

Penelitian menunjukkan bahwa penyakit gingivitis mempunyai kaitan dengan tingginya risiko serangan jantung, stroke, hingga penyakit paru-paru. Pada wanita hamil, gingivitis meningkatkan risiko kelahiran prematur maupun bayi yang berada di bawah berat normal.

Pengobatan untuk penyakit gingivitis dapat dijabarkan sebagai berikut:
- Pembersihan gigi secara menyeluruh untuk menghilangkan plak dan tartar.
- Mengikuti langkah-langkah menyikat gigi yang benar.
- Check-up teratur ke dokter gigi.
- Perbaikan bagian gigi yang memerlukan perbaikan karena menyebabkan timbulnya halangan untuk membersihkan gigi secara menyeluruh.

Setelah memperbaiki gigi dan membersihkan tartar/dental calculus di gigi, perawatan di rumah meliputi menyikat gigi dua kali sehari dan membersihkan mulut dengan obat kumur jika direkomendasikan oleh dokter. Jika hal ini dilakukan secara teratur, gusi akan kembali sehat dalam hitungan minggu bahkan hari.

drg. Ruby KusnadiPertahankan kebiasaan menyikat gigi sebanyak dua kali sehari dan gunakan sikat gigi berbulu lembut yang teratur diganti setiap tiga hingga empat bulan. Periksakan gigi setiap 6 hingga 12 bulan sekali untuk pengecekan rutin.

Review oleh drg. Ruby Kusnadi
Praktik di Siloam Hospital Kebon Jeruk, RS Mitra Kemayoran dan J&J Dental Care
Ditulis oleh: Prisca Akhaya
www.MeetDoctor.com


***
Punya pertanyaan seputar masalah kesehatan? Ajukan ke www.MeetDoctor.com dan para dokter akan menjawabnya dalam 24 jam.


sumber;
klik di sini
Read More ->>

Tidur Membantu ‘Mencuci’ Racun Berbahaya Dalam Otak!

Tidur Membantu ‘Mencuci’ Racun Berbahaya Dalam Otak!

Penelitian baru menunjukan bahwa otak memanfaatkan waktu tidur untuk membersihkan toksin yang dihasilkan selama berpikir seharian.
Tidur Membantu ‘Mencuci’ Racun Berbahaya Dalam Otak!
Penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Science menunjukan adanya penyusutan se-sel otak selama tidur, untuk memberikan celah antara neuron dan cairan otak agar bisa membersihkan toksin dalam otak.
Para peneliti juga berpendapat bahwa otak yang tidak bersih dari toksin atau protein beracun mungkin akan menjadi salah satu penyebab dari gejala gangguan otak.
“Otak hanya memiliki energi yang terbatas dan harus memilih antara dua fungsi yang berbeda-beda, antara bangun dan sadar atau tidur dan membersihkan,” kata Dr. Maiken Nedergaard, M.D., D.M.Sc., dari University of Rochester Medical Center, NY, AS, yang melakukan penelitian ini.
“Anda bisa menggambarkan otak seperti rumah pesta, dimana Anda bisa menghibur tamu atau membersihkan rumah, namun Anda pasti tidak akan bisa melakukan keduanya pada waktu yang sama,” tegas Nedergaard.
Penelitian ini juga menjadi tambahan bukti pada penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa otak memiliki saluran sendiri (sistem glymphatic) yang berguna untuk membawa kotoran keluar dari otak.
Para peneliti juga percaya, bahwa sistem glymphatic menjadi 10 kali lebih aktif ketika tidur, walaupun penelitian yang dilakukan masih menggunakan tikus sebagai obyek penelitian.
Sementara Dr. Neil Stanley, seorang ahli tidur independen yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan, “Ini merupakan penelitian yang sangat menarik, dimana menunjukan waktu tidur sangat penting untuk membuang neurotoksin keluar dari otak.”
Para peneliti lain juga sepakat untuk melakukan penelitian lebih lanjut, untuk bisa memastikan penelitian tersebut, karena masalah dengan mekanisme pembersihan otak juga dapat menyebabkan beberapa penyakit akibat gangguan otak, salah satunya demensia.
Badan amal Alzheimer’s Research, UK, juga menyatakan siap untuk membantu penelitian lebih lanjut agar bisa melihat apakah kerusakan pada sistem pembuangan toksin dalam otak dapat menyebabkan penyakit seperti demensia.
Well, jangan sia-siakan waktu tidur Anda ya!




sumber;
klik
di sini
Read More ->>

Microsoft Matikan Windows XP

Ini Alasan Microsoft Matikan Windows XP

TEMPO.CO , Jakarta:Bagi Anda yang masih setia dengan sistem operasi Windows XP, bersiaplah untuk segera memperbaruinya. Sebab Microsoft akan menonaktifkannya pada 8 April 2014.
"Daya tahan Windows XP semakin melemah, dipastikan tidak ada lagi perpanjangannya," kata Windows Business Group Head Microsoft Indonesia Lucky Gani, di Jakarta, Jumat 18 Oktober 2013.
Menurut dia, pengguna Windows XP juga tidak mendapat fasilitas update secara offline. "Kalau tidak bisa lagi digunakan, itu merupakan risiko penggunanya," ujar dia.
Alasan lain tidak diperbaruinya sistem ini, menurut Lucky, karena usia Windows XP yang sudah uzur. Sistem operasi ini pertama kali diluncurkan pada 25 Oktober 2001.
Sebenarnya sistem tersebut updatenya sudah dimatikan sejak 2009. Namun atas tingginya permintaan konsumen, maka dilanjutkan kembali.
Adapun jumlah pengguna Windows XP di Indonesia kini turun dari 38 persen menjadi 31 persen dari total jumlah pengguna Windows. Namun Lucky tidak bisa menyebutkan angka pasti jumlah pengguna Windows di tanah air.
Dia mengakui, konsumen masih menyukai versi lama Windows, salah satunya Windows 7 yang menjadi favorit di Indonesia. "Ini karena performanya lebih stabil, apalagi di 64 bit."
Lucky berharap berikutnya masyarakat merasakan pengalaman menggunakan sistem operasi yang baru diperbarui, yaitu Windows 8.1. Sistem ini sudah bisa dinikmati di seluruh dunia secara serentak mulai Jumat 18 Oktober 2013.

sumber;
klik di sini
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.